
Di tengah krisis lingkungan global yang semakin kompleks, pembangunan tidak lagi hanya sekedar dapat dipahami sebagai persoalan pertumbuhan ekonomi saja. Ia harus hadir dan memperhatikan ekosistem lainnya agar tidak merusak lingkungan sekitar. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam kuliah tamu bertajuk Bioetika Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan yang telah diselenggarakan oleh Program Studi Magister Bioetika pada Kamis, 26 Februari 2026.
Sesi ini menghadirkan Dr. Priyaji Agung Pambudi, forum akademik ini menyoroti satu pesan yang sangat penting bahwa “krisis lingkungan adalah krisis moral”. Di hadapan mahasiswa Magister Bioetika, ia menegaskan bahwa berbagai kebijakan pembangunan yang merusak ekosistem tidak dapat dilepaskan dari pilihan etik manusia dalam memaknai relasinya dengan alam.
Diskusi ini berangkat dari konsep pembangunan berkelanjutan yang selama ini menjadi kerangka global, termasuk dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang bertumpu pada tiga pilar utama yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan namun seringkali kerap timpang dalam praktiknya. Dalam konteks inilah bioetika lingkungan hadir sebagai kerangka reflektif untuk menilai apakah suatu kebijakan benar-benar adil, tidak hanya untuk generasi hari ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.
Secara khusus, pembahasan kuliah tamu ini berkaitan langsung dengan SDG 12 tentang (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 tentang (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 15 tentang (Ekosistem Daratan), serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang tangguh). Keempat tujuan tersebut akan susah dicapai tanpa fondasi etik yang kuat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengambilan keputusan pembangunan.
Berbagai prinsip etik seperti keadilan antar generasi, nilai intrinsik alam, dan keadilan lingkungan menjadi landasan dalam membaca konflik-konflik nyata di lapangan. Mulai dari pertarungan antara pertambangan dan kesejahteraan masyarakat, deforestasi atas nama ketahanan pangan, pengembangan energi terbarukan yang justru merusak habitat, hingga relokasi masyarakat adat demi proyek nasional.
Kuliah tamu ini juga menempatkan krisis iklim sebagai tantangan etis global, yang menuntut pendekatan lintas disiplin dan keberanian untuk mempertanyakan mengenai persoalan paradigma pembangunan yang selama ini dianggap mapan. Bioetika, sebagaimana ditegaskan dalam forum ini, tidak lagi terbatas pada ruang klinis atau laboratorium, melainkan menjadi lensa penting dalam merespons krisis ekologis dunia.
Melalui diskusi yang berlangsung intens dan reflektif, kegiatan ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat isu lingkungan secara lebih kritis yang menekankan sebagai persoalan nilai, tanggung jawab, dan keberlanjutan kehidupan itu sendiri.
Penulis: Fajar Saris
Editor: Yeti Susilowati