Yogyakarta, 14 November 2025 – Program Studi Kajian Budaya dan Media (KBM), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, kembali menghadirkan ruang dialog akademik melalui kegiatan Book Launching and Discussion yang diselenggarakan pada Jumat (14/11) di Ruang 307 Sekolah Pascasarjana UGM. Acara ini menjadi bagian penting dari rangkaian perayaan Lustrum ke-4 KBM, sekaligus bentuk apresiasi terhadap karya ilmiah terbaru yang dihasilkan oleh dosen, peneliti, dan jejaring KBM.
Tiga buku yang diluncurkan dalam acara ini adalah “Kala Lokal dan Global Berjumpa dalam Praktik Budaya dan Media di Indonesia” (editor: Arifah Rahmawati), “Pertemanan dan Pesohor di Ruang Siber” (editor: Budiawan), dan “Identitas yang Terbelah” (editor: Archie Raditya). Ketiganya merepresentasikan cakupan kajian KBM yang luas—mulai dari dinamika budaya sehari-hari, relasi sosial di ruang digital, hingga perdebatan identitas dalam masyarakat Indonesia kontemporer.
Acara dibuka pukul 08.00 WIB melalui sesi registrasi peserta, disusul pembukaan oleh MC, Ave. Sambutan diberikan oleh Rivi Handayani, Sekretaris Jenderal Kotabumi, yang menekankan pentingnya produksi pengetahuan dan kolaborasi lintas komunitas dalam memperkuat ekologi akademik KBM. Setelah sambutan, masing-masing editor memperkenalkan bukunya secara singkat melalui prosesi launching simbolis, serta menyerahkan eksemplar kepada perwakilan prodi, Ratna Noviani, sebagai tanda dimulainya rangkaian diskusi.
Sesi pertama menyoroti buku Kala Lokal dan Global Berjumpa dalam Praktik Budaya dan Media di Indonesia. Buku ini mengeksplorasi bagaimana arus globalisasi mempengaruhi praktik budaya di berbagai konteks lokal, mulai dari kuliner, ruang kota, hingga konsumsi budaya. Salah satu esai membahas bagaimana makanan menjadi medan negosiasi identitas di tengah mobilitas global. Fenomena seperti kehadiran burger di Jakarta, sushi di Paris, atau nasi goreng di Amsterdam menunjukkan pertemuan rasa global yang sekaligus memunculkan risiko homogenisasi. Di Yogyakarta, kawasan seperti Prawirotaman memperlihatkan tarik-ulur antara global dan lokal, ketika warung tradisional berdampingan dengan restoran modern dan merespons wisatawan internasional melalui menu berbahasa Inggris atau konsep interior baru. Esai-esai dalam buku ini menampilkan bagaimana identitas kultural dinegosiasikan melalui hibriditas, adaptasi, dan resistensi halus terhadap dominasi global.
Sesi kedua berfokus pada buku Pertemanan dan Pesohor di Ruang Siber. Buku ini membahas bagaimana konsep pure relationship (Giddens, 1992) hadir dalam relasi kontemporer yang berlangsung lintas ruang offline dan online. Penulis menunjukkan bahwa perdebatan soal kualitas pertemanan—apakah lebih “nyata” secara offline atau online—tidak lagi relevan karena keduanya memiliki dinamika dan tantangan masing-masing. Selain itu, buku ini membedah perbedaan antara selebriti tradisional dan selebriti internet yang bergantung pada viralitas dan visibilitas. Kehadiran pesohor digital mengubah cara kedekatan dibentuk melalui performativitas dan kurasi identitas. Pendekatan visual seperti tangkapan layar turut digunakan untuk memperjelas praktik interaksi di ruang siber, menjadikan buku ini perspektif penting dalam membaca fenomena media sosial saat ini.
Sesi ketiga menghadirkan diskusi tentang buku Identitas yang Terbelah, yang menelaah isu identitas, representasi, dan relasi kekuasaan di Indonesia. Buku ini juga mengaitkan praktik fandom sebagai ruang produksi makna. Komunitas penggemar Love Live! misalnya, memperlihatkan bagaimana fans berperan sebagai produsen budaya melalui karya seni, diskusi daring, hingga fan art yang menggambarkan semiotic democracy. Namun, kreativitas tersebut tidak sepenuhnya bebas karena tetap berada dalam shadow cultural economy yang dibatasi oleh industri budaya. Analisis tentang doujinshi dan karya yuri dalam fandom membuka ruang diskusi mengenai resistensi terhadap norma dominan serta ekspresi afektif di ruang budaya populer.
Acara yang berlangsung hingga pukul 14.15 WIB ini ditutup dengan pemberian sertifikat dan sesi foto bersama. Seluruh rangkaian kegiatan didokumentasikan oleh Tim PDD KBM. Melalui kegiatan ini, Program Studi KBM berharap dapat terus membangun iklim intelektual yang kritis, kreatif, dan inklusif, serta memperkuat kolaborasi antara sivitas akademika dan komunitas pengetahuan yang lebih luas.
Penulis: Khoirul Mujazanah



