
Yogyakarta, 13 Januari 2026 — Cahaya lampu yang semakin terang di malam hari ternyata tidak hanya menerangi lingkungan, tetapi juga membawa dampak serius bagi kehidupan serangga, khususnya ngengat. Penelitian terbaru di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menunjukkan bahwa peningkatan intensitas cahaya buatan pada malam hari berkorelasi dengan menurunnya jumlah dan keanekaragaman ngengat. Padahal, serangga malam ini memiliki peran penting dalam menjaga kesuburan tanaman dan keseimbangan ekosistem.
Ngengat kerap dianggap serangga biasa, bahkan sering dipandang sebagai hama. Namun, di balik itu, ngengat berperan sebagai penyerbuk alami berbagai jenis tanaman, mirip dengan lebah, serta menjadi sumber makanan bagi burung dan kelelawar. Sayangnya, keberadaan mereka kini semakin terancam oleh polusi cahaya akibat aktivitas manusia.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr. Ir. Much. Taufik Tri Hermawan, S.Hut., M.Si. bersama Marwan Rajab, S.Hut. dan Dwi Prayoga Ade Sarlita, S.Si. dari Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM). Tim peneliti memantau kondisi populasi ngengat di sejumlah kawasan Sleman selama beberapa bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat pencahayaan malam yang tinggi memiliki jumlah ngengat yang jauh lebih sedikit sekaligus mengalami penurunan keanekaragaman jenis.
Ketua tim peneliti, Dr. Taufik Tri Hermawan, menjelaskan bahwa polusi cahaya memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan serangga malam. “Ngengat sangat bergantung pada kondisi gelap untuk menjalankan aktivitas alaminya. Cahaya buatan yang berlebihan di malam hari mengganggu navigasi dan proses reproduksi mereka, sehingga populasinya terus menurun,” ujarnya.
Penurunan populasi ngengat berpotensi menimbulkan dampak lanjutan yang serius, terutama bagi sektor pertanian dan lingkungan. Berkurangnya aktivitas penyerbukan dapat menyebabkan tanaman menjadi kurang subur dan menurunkan produktivitas hasil pertanian. Selain itu, terganggunya rantai makanan juga mengancam keberlangsungan satwa lain, seperti burung dan kelelawar, yang bergantung pada ngengat sebagai sumber pakan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa solusi yang ditawarkan tidak harus bersifat ekstrem. Masyarakat dapat mulai berkontribusi dengan langkah-langkah sederhana, seperti menggunakan lampu dengan intensitas lebih redup di malam hari, mematikan lampu yang tidak diperlukan, serta menciptakan zona gelap di sekitar area pertanian dan ruang terbuka hijau.
Kata kunci SDGs: SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 15: Ekosistem Daratan
Sumber: Taufik Tri Hermawan
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Unsplash