• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • Kuliah Umum “Consumer Culture: Luxury and Sustainability” Bahas Ulang Makna Kemewahan di Era Krisis Iklim

Kuliah Umum “Consumer Culture: Luxury and Sustainability” Bahas Ulang Makna Kemewahan di Era Krisis Iklim

  • Berita
  • 17 November 2025, 09.29
  • Oleh: pudji_w
  • 0

Yogyakarta, 6 November 2025 — Sekolah Pascasarjana UGM menggelar kuliah umum bertajuk Consumer Culture: Luxury and Sustainability menghadirkan Prof. Dr. Mike Featherstone (Goldsmiths, University of London). Acara berlangsung di Auditorium Lantai 5, pukul 08.30 – 12.00, dengan Dr. Suzie Handajani, M.A. (Dosen Media & Cultural Studies & Departemen Antropologi UGM) sebagai moderator.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Mike Featherstone menelusuri sejarah panjang kemewahan—dari sesuatu yang dulu dianggap berbahaya dan dikontrol lewat sumptuary laws, hingga menjadi tulang punggung budaya konsumsi global. Ia menempatkan perdebatan klasik Max Weber—etika Protestan yang menolak kemewahan—berhadapan dengan Werner Sombart yang menilai konsumsi istana sebagai pemicu lahirnya kapitalisme modern.

Featherstone lalu menunjukkan “demokratisasi kemewahan” sejak abad ke-19: kemunculan department store, hotel, hingga sinema yang memproduksi citra glamor dan “little luxuries” di mana-mana. Namun, akses yang tampak terbuka ini berjalan beriringan dengan ketimpangan yang menganga—data ketimpangan dan visual memperlihatkan akumulasi kekayaan kelas super-kaya yang kian dominan.

Fenomena itu menimbulkan apa yang ia sebut “refeudalisasi”: gaya hidup super-kaya—dari superyacht hingga jet pribadi—menjadi standar simbolik baru yang sulit dijangkau publik luas. Di saat bersamaan, konsekuensi planeter konsumsi berlebih kian terlihat: dari protes overtourism hingga krisis iklim.

Apakah kemewahan bisa berkelanjutan? Featherstone mengulas klaim daya tahan, kualitas, dan nilai investasi barang mewah, sambil mengingatkan variasi usia pakai dan maraknya “masstige” (kemewahan massal) yang justru mempercepat siklus konsumsi. Ia mengkritisi proliferasi lembaga rating karbon dan pasar carbon credits yang rawan greenwashing, sembari menyoroti inisiatif regulatif seperti EU Digital Product Passport untuk ketertelusuran material dan dampak produk.

Menatap ke depan, Featherstone menekankan terbentuknya etika konsumen baru: post‑consumerism, degrowth, dan pergeseran dari kepemilikan menuju pengalaman, perawatan, dan perbaikan. Ia mengutip praktik “beli lebih sedikit, pilih yang baik, rawat agar lestari” serta menawarkan horizon estetik seperti wabi‑sabi—menghargai kesederhanaan dan kefanaan—hingga kintsugi sebagai metafora merawat dan memperpanjang usia pakai. Di bagian “Beyond Luxury, ia mengajak publik mempertimbangkan “immaterial luxury”: kepekaan rasa, makna, dan nilai-nilai nonmaterial yang memuliakan perhatian, kepedulian, dan waktu.

Menutup sesi, Featherstone menegaskan bahwa kemewahan masa depan bukan tentang memiliki lebih banyak, melainkan menikmati dengan lebih bijak—sejalan dengan tuntutan keadilan sosial dan batas ekologi bumi. Kuliah umum ini memperkaya diskursus lintas disiplin di Sekolah Pascasarjana UGM, sekaligus mengundang sivitas akademika untuk berperan aktif dalam mendorong produksi, konsumsi, dan kebijakan publik yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Penulis: Khoirul Mujazanah

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Recent Posts

  • Kegiatan Pemantauan Potensi Air Tanah di Kubu Raya: Magister Pengelolaan Lingkungan SPs UGM Dan Pemprov Kalbar Siap Jawab Krisis Air Bersih
  • Dorong Pengembangan SDM Statistik, Prodi Doktor Kependudukan Sosialisasi ke BPS Kota Surakarta
  • Kerja Sama Sekolah Pascasarjana UGM dan Kementerian Transmigrasi Selenggarakan Ekspose Laporan Akhir Studi Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi Koridor Jalan Tol Trans Sumatera
  • PSPSR UGM Laksanakan Program Pengabdian “NUSA BUDAYA” di Padukuhan Pringgading Bantul
  • MPRK UGM Perkenalkan Keamanan Manusia dalam Kunjungan Studi UKSW Salatiga
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju