• Tentang UGM
  • Simaster
  • Perpustakaan
  • IT Center
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Tentang Kami
    • Posisi
    • Keunggulan
    • Struktur Organisasi
    • Layanan dan Fasilitas
    • Kehidupan Kampus
    • Kontak
  • PPID
    • Informasi Publik
      • Informasi yang Wajib Disediakan dan Diumumkan secara Berkala
      • Informasi Tersedia Setiap Saat
      • Daftar Informasi Dikecualikan
    • Layanan Informasi
      • Alur dan Prosedur Permohonan Informasi
      • Alur dan Prosedur Pengajuan Keberatan atas Informasi
      • Prosedur dan Tatacara Penyelesaian Sengketa
      • Maklumat Pelayanan Informasi Publik
  • Akademik
    • Pengumuman
    • Dokumen Akademik
    • Kalender Akademik
  • Admisi
    • Program Studi
    • Beasiswa
    • Syarat Pendaftaran
    • Prosedur Pendaftaran
    • Biaya Pendidikan (UKT)
    • Registrasi
  • Kegiatan
    • Agenda
    • Berita
    • Penelitian
    • Pengabdian Masyarakat
  • Survei Layanan
  • Beranda
  • Berita
  • Kesadaran Disabilitas: Mewujudkan Lingkungan Kampus yang Setara dan Inklusif

Kesadaran Disabilitas: Mewujudkan Lingkungan Kampus yang Setara dan Inklusif

  • Berita
  • 28 November 2025, 09.51
  • Oleh: pudji_w
  • 0

“Di awal semester, saya beberapa kali tidak kebagian kelas, karena lamban, tidak bisa KRS cepat seperti teman-teman normal lainnya padahal kuota kelas terbatas” (Irsyad, mahasiswa disabilitas netra UGM).

“Saya kesulitan mengakses buku-buku hasil scan di perpustakaan, karena hasil scan tidak bisa terbaca dengan sempurna oleh aplikasi yang saya gunakan untuk mengubah tulisan menjadi audio (Aulia, mahasiswa disabilitas netra UGM).

Apa yang disampaikan Irsyad dan Aulia adalah sebagian kecil diantara banyaknya masalah nyata yang dihadapi penyandang disabilitas. Permasalahan-permasalahan di atas perlu menjadi perhatian bersama mengingat angka penyandang disabilitas di Indonesia lumayan tinggi. Berdasarkan hasil sensus 2020, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sekitar 40,5 juta orang. Suatu angka yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan total populasi negara Malaysia yang hanya berjumlah 32,5 juta jiwa; populasi Australia yang hanya berjumlah 25,5 juta jiwa, apalagi dibandingkan dengan populasi Singapura yang hanya berjumlah 5.6 juta jiwa. Bagaimana melayani dan berinteraksi dengan para penyandang disabilitas?

Bagaimana mewujudkan kampus UGM yang setara dan inklusif? Pertanyaan- pertanyaan ini dijawab Unit Layanan Disabilitas dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan dan layanan, diantaranya Pelatihan Kesadaran Disabilitas: Mewujudkan Lingkungan yang Setara dan Inklusif Kegiatan ini dipandu Wuri Handayani, Ph.D. dan Tim Unit Layanan Disabilitas dan diikuti tenaga kependidikan dari berbagai unit dan fakultas yang dilaksanakan di Ruang Multimedia Lt3. Gedung Pusat UGM pada Rabu, 19 November 2025.

Menuju UGM sebagai Kampus Inklusif

Unit Layanan Disabilitas (ULD) hadir sebagai bentuk komitmen UGM untuk mewujudkan kampus inklusif. Saat ini, di UGM terdapat sekitar 50-an mahasiswa penyandang disabilitas di berbagai jenjang diploma, sarjana, magister dan doktor. Untuk meningkatkan kesadaran disabilitas, ULD mendesain pelatihan ini dengan menghadirkan sesi simulasi pendampingan disabilitas. Peserta pelatihan dibagi dalam 3 kelompok. Setiap kelompok melakukan simulasi pendampingan di 3 pos yaitu pos disabilitas netra; pos disabilitas tuli; dan pos disabilitas fisik.

Pada pos disabilitas fisik, peserta pelatihan praktik langsung tips dan trik menurunkan dan menaikkan kursi roda di area tangga. Untuk membantu disabilitas netra, peserta pelatihan mempraktikkan cara menuntun disabilitas netra di jalan, menaiki dan menuruni anak tangga, serta cara mengakses lift. Adapun pada pos disabilitas tuli, peserta pelatihan belajar bahasa isyarat sederhana yang akan membantu proses komunikasi dengan disabilitas tuli.

Selain pelatihan kesadaran disabilitas, UGM telah berbenah dengan menghadirkan fasilitas gedung yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain toilet yang mengakomodasi kebutuhan disabilitas, jalur ram, lift, guiding block, area parkir khusus dan lain-lain. Kedepannya, UGM perlu meningkatkan pelayanan khususnya saat kondisi kedaruratan (kebakaran, gempa, sakit, dan lain-lain). UGM perlu memiliki prosedur evakuasi bagi penyandang disabilitas diantaranya dengan menyediakan nomor khusus yang dapat dihubungi disabilitas saat kedaruratan terjadi. Selain itu, pengguna kursi roda membutuhkan evacuation chair yang akan membantu penanganan lebih cepat saat kedaruratan.

Pelatihan yang dipandu oleh Wuri Handayani, Ph.D. dan Tim Unit Layanan Disabilitas bertujuan untuk Meningkatkan pemahaman, pengetahuan, kepekaan dan keterampilan dalam berinteraksi dan melayani penyandang disabilitas. Joko Waluyo, saya satu peserta pelatihan mengatakan bahwa terdapat 3 manfaat yang dirasakan setelah mengikuti pelatihan. Pertama, menambah pengetahuan mengenai tata-cara pelayanan yang baik dan benar kepada penyandang disabilitas. Kedua, tendik mengetahui apa yang menjadi kebutuhan teman-teman disabilitas terkait dengan fasilitas pendukung kegiatan perkuliahan/akademik. Ketiga, meningkatnya rasa empati kepada penyandang disabilitas dan berusaha memberikan pelayanan prima sesuai kebutuhan penyandang disabilitas.

Pelatihan-pelatihan seperti ini sangat penting dilakukan agar kasus-kasus yang dihadapi Irsyad dan Aulia dapat disadari dosen, tenaga kependidikan serta pemangku kepentingan, sehingga kedepannya dapat meningkatkan pelayanan yang setara dan inklusif kepada penyandang disabilitas.

Mengenal Disabilitas

Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dijelaskan bahwa Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensori dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi

 

dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Berdasarkan definisi di atas, ragam penyandang disabilitas dikelompokkan menjadi 4. Pertama, keterbatasan fisik yaitu terganggunya fungsi gerak karena amputasi, lumpuh, dan lain-lain. Kedua, keterbatasan sensorik, terganggunya salah satu fungsi panca indera: netra, tuli/rungu/wicara. Ketiga, keterbatasan intelektual, terganggunya salah satu fungsi pikir karena kecerdasan di bawah rata-rata. Keempat, disabilitas tidak terlihat (hidden/invisible disabilitas), keterbatasan mental masuk dalam kategori ini.

Bagaimana Melayani Penyandang Disabilitas?

Dalam berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, setidaknya terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan. Pertama, bertanya, hindari berasumsi. Jangan berasumsi bahwa penyandang disabilitas pasti tidak bisa atau bisa melakukan sesuatu. Sebaiknya, tanyakan langsung kebutuhan penyandang disabilitas. Kedua, fokus kepada individu penyandang disabilitas. Komunikasi langsung dengan penyandang disabilitas, bukan dengan pendampingnya. Ketiga, bersikap sabar. Jika terdapat hal yang dianggap kurang jelas, silahkan bertanya kembali ke penyandang disabilitas untuk memperjelas apa yang disampaikan. Keempat, menghargai harkat dan martabat. Penyandang disabilitas juga manusia biasa, sama dengan non disabilitas.

Beberapa hal yang perlu menjadi kesadaran bersama dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas adalah:

  1. kursi roda dan alat bantu lain merupakan privasi dan hak milik disabilitas;
  2. pastikan untuk meminta izin ketika memindahkan dan menyentuh kursi roda, kruk, brace, dan alat bantu yang lain;
  3. pastikan bahwa kursi roda, dan alat bantu lainnya selalu berada pada jangkauan disabilitas tersebut.

Dalam pelatihan ini, peserta pelatihan dibekali berbagai tips dalam melayani penyandang disabilitas sesuai dengan kebutuhannya. Bagi disabilitas netra, staf disarankan untuk selalu menyapa dan memperkenalkan diri lebih awal, ini untuk membantu disabilitas netra mengenali siapa yang sedang bertugas.

Adapun pelayanan untuk disabilitas tuli, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain tidak semua disabilitas tuli berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, ada juga yang berkomunikasi dengan membaca gerak bibir. Untuk itu, melepas masker akan membantu proses komunikasi. Tidak semua disabilitas tuli tidak dapat mendengar sama sekali. Terdapat disabilitas tuli yang telinganya masih dapat mendengar suara walaupun hanya sedikit. Oleh karena itu, kesabaran dalam proses komunikasi sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, bagi disabilitas mental, beberapa pengetahuan dan strategi pelayanan yang diajarkan antara lain: pada umumnya disabilitas mental autis/ADHD enggan untuk

menatap mata pembicara. Untuk itu, harap dimaklumi, jangan berfikir bahwa mereka tidak sopan. Selanjutnya sebaiknya menanyakan dahulu kepada yang bersangkutan mengenai hal-hal yang perlu diketahui, sebaiknya menghindari tindakan atau ucapan yang bisa dianggap menyakiti/ menyinggung perasaan, hindari mengeraskan volume suara, berbicara secara perlahan, suara lembut dan sabar. Ketika berinteraksi dengan disabilitas mental, pastikan mereka dalam kondisi rileks dan nyaman.

Penulis: Linah Khairiyah Pary

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 4: Pendidikan Berkualitas

Recent Posts

  • Kegiatan Pemantauan Potensi Air Tanah di Kubu Raya: Magister Pengelolaan Lingkungan SPs UGM Dan Pemprov Kalbar Siap Jawab Krisis Air Bersih
  • Dorong Pengembangan SDM Statistik, Prodi Doktor Kependudukan Sosialisasi ke BPS Kota Surakarta
  • Kerja Sama Sekolah Pascasarjana UGM dan Kementerian Transmigrasi Selenggarakan Ekspose Laporan Akhir Studi Pengembangan Ekonomi Kawasan Transmigrasi Koridor Jalan Tol Trans Sumatera
  • PSPSR UGM Laksanakan Program Pengabdian “NUSA BUDAYA” di Padukuhan Pringgading Bantul
  • MPRK UGM Perkenalkan Keamanan Manusia dalam Kunjungan Studi UKSW Salatiga
Universitas Gadjah Mada
Sekolah Pascasarjana
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jl. Teknika Utara, Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, 55284
Telp. (0274) 544975, 564239
Email : sps@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju