
Yogyakarta, 15 Januari 2026 — Tim peneliti dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti peran strategis kepemimpinan perempuan dan kemitraan lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan pendidikan Islam di pesantren Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada Mei hingga Juli 2025 di dua pesantren besar di Indonesia, yaitu Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Bogor dan Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum di Yogyakarta.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr.Ridwan Ahmad Sukri ini menemukan bahwa kepemimpinan perempuan di pesantren tidak hanya simbolik, tetapi juga menentukan arah transformasi lembaga. Di Al Ashriyyah Nurul Iman, Umi Waheeda membangun 69 unit usaha berbasis model Food, Energy, Water, and Waste (FEWS) untuk membiayai pendidikan gratis bagi lebih dari 15.000 santri. Pesantren ini juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Buddha Tzu Chi Foundation Taiwan dan Amanda Hospital untuk mendukung pengembangan kewirausahaan sosial dan kesehatan santri serta menjadi menjalin hubungan dengan BI yang kemudian bekerja sama dengan kampus-kampus ternama di indonesia untuk penyediaan tenaga ahli dan pelatihan di berbagai bidang terutama industri dan pertanian.
Sementara di Pesantren Krapyak, Nyai Ida Rufaida menegaskan kepemimpinan kolektif yang berpijak pada musyawarah dan nilai kultural. Ia berperan penting dalam kemitraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah dan pengelolaan sampah berbasis zero waste yang kini menjadi proyek percontohan nasional.
“Perempuan di pesantren bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penggerak inovasi sosial dan pendidikan berkelanjutan,” Ujar Dr. Ridwan.
Penelitian ini berkontribusi pada pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan Pembangunan), sekaligus menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi model kolaborasi lintas sektor yang berdaya guna bagi kesejahteraan sosial.
Sumber: Ridwan AS
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Ridwan AS