Yogyakarta, 5 November 2025 – Memasuki hari kedua, konferensi The 13th International Graduate Students and Scholars’ Conference in Indonesia (IGSSCI) melanjutkan momentum diskusi ilmiahnya dengan Sesi Paralel II dan III. Puluhan peneliti kembali mempresentasikan temuan mereka, mengupas isu-isu krusial mulai dari keamanan regional, resiliensi iklim, hingga perlindungan kelompok rentan. Masih mengusung tema “Navigating The Future: Strengthening Resilience Through Glocal Collaboration Towards World Peace“, hari kedua konferensi ini membuktikan kedalaman topik yang dibahas, menunjukkan kolaborasi “glocal” dalam aksi nyata. Sesi Paralel II yang berlangsung dari pukul 10.15 hingga 11.45 WIB menyajikan beragam penelitian mutakhir. Salah satu topik yang menjadi sorotan utama hadir di Panel 11, di mana Veryanto Sitohang & Tutik Rachmawati (UNIKA Parahyangan) mempresentasikan analisis kritis mereka dalam “Are Victims Truly Protected by the Law? An Analysis of Indonesia’s Sexual Violence Crime Law”. Paparan ini menguji efektivitas hukum dalam memberikan keadilan bagi korban kekerasan seksual di Indonesia.
Tidak kalah menarik, di Panel 12, Rizky Romadhona (UGM) mengangkat persinggungan antara teknologi pertahanan dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Penelitiannya tentang “Defense Cooperation and SDGs” mengkaji dampak pendirian pabrik drone tempur Indonesia-Turki, sebuah topik unik yang memicu diskusi tentang etika, keamanan, dan pembangunan. Di ranah resiliensi iklim dan teknologi, Afifatul Husna Al Adilah (UGM) dari Panel 9 memaparkan studi “Evaluation and Bias Correction of GPM Satellite Rainfall Data…”. Penelitian ini mendemonstrasikan penerapan teknologi satelit global untuk pemetaan data curah hujan yang lebih akurat di Kabupaten Gunungkidul, sebuah contoh konkret penerapan solusi “glocal” untuk manajemen risiko bencana. Berlanjut pada sore hari, Sesi Paralel III (14.30 – 16.00 WIB) mengalihkan fokus pada isu-isu tata kelola, geopolitik, dan resiliensi perkotaan. Di Panel 13, Dinias Adi Nugroho (UGM) menyajikan analisisnya mengenai “Indonesian Government’s Conflict Style in Responding to the South China Sea Conflict…”. Penelitian ini mengupas strategi diplomasi dan gaya resolusi konflik Indonesia dalam menghadapi salah satu isu geopolitik terpanas di kawasan. Dari perspektif tata kelola bencana, Muhamad Irfan Nurdiansyah (UGM) di Panel 14 membedah “Institutional Gaps in Disaster Governance” dengan studi kasus gempa Cianjur 2022. Temuannya menyoroti celah kelembagaan yang perlu ditangani untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di Indonesia. Sementara itu, isu resiliensi perkotaan dan migrasi dibahas di Panel 17 dan 18. Fahri Admadji (UGM) mempresentasikan “Urban Flood Hazard Mapping” di Sulawesi Selatan, sementara Leonard C Epafras & Heonook Lee (UGM) mengkaji kehidupan “Indonesian Muslim Migrants in South Korea” sebagai bagian dari resiliensi sosial dan transnasionalisme. Di samping isu tata kelola, sesi-sesi paralel lain di hari kedua ini turut menyoroti resiliensi dari perspektif budaya, sosial, dan perdamaian. Peneliti dari Kyung Hee University, Hyukmin Kang, memaparkan kajiannya tentang “The Peaceful Transformation and Sustainability of Space: The Case of the Korean Peninsula”.
Isu kemanusiaan dan komunitas juga mengemuka. Salsabila Azzahra (UGM) meneliti “The Cultural Poverty Profile of East Timor Ex-Refugees” di perbatasan Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Faruk HT (UGM) membahas “Becoming Part of Queer Communities in Yogyakarta: Before and After Digitalization”. Dari sisi resiliensi budaya, Nur Azizah (UGM) menganalisis transformasi “From Ritual to Tourist Attraction” pada Tari Sere Bissu di Sulawesi Selatan. Kajian unik lainnya datang dari Nopsi Marga Handayani & Farah Tsabita Huda (UGM) yang meneliti “Digging Through Dispossession” di mana mereka mengkaji konsumsi awul-awul (thrifting) di Pasar Legen, Indonesia, sebagai sebuah praktik revaluasi limbah dan selera kelas bawah.
Rangkaian Sesi Paralel II dan III ini, bersama dengan lokakarya seperti “Faith for Cities”, semakin menegaskan komitmen IGSSCI sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin. Diskusi hari ini membuktikan bahwa tantangan global yang kompleks, mulai dari konflik geopolitik, transformasi budaya, hingga keadilan sosial, membutuhkan solusi yang dipikirkan secara global namun relevan dan dapat diterapkan secara lokal.
Penulis : Berlian Belasuni


