
Yogyakarta, 4 Februari 2026 — Ketika membicarakan Pekerja Migran Indonesia (PMI), narasi yang kerap mengemuka sering kali berkutat pada angka—besaran remitansi yang dikirim ke kampung halaman, keberhasilan membangun rumah, atau sebaliknya, kisah kegagalan di negeri orang. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap lapisan pengalaman yang jauh lebih mendalam. Migrasi tidak semata-mata dimaknai sebagai perpindahan fisik demi penghasilan, melainkan juga sebagai perjalanan spiritual dan sosial yang membentuk ulang cara pandang, keimanan, relasi gender, serta jejaring komunitas para pekerja migran, bahkan setelah mereka kembali ke Tanah Air.
Penelitian ini diinisiasi oleh Dr. Leonard Chrysostomos Epafras dari Program Studi Doktor Interreligious Studies (IRS), Sekolah Pascasarjana UGM, dan dilaksanakan melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana UGM Tahun 2025. Bersama Hongsok Lee, M.Div., tim peneliti melakukan studi komparatif dengan mewawancarai dua kelompok purna PMI, yaitu mereka yang pernah bekerja di Korea Selatan dan di Hong Kong. Pendekatan ini memungkinkan tim mengamati secara lebih tajam bagaimana faktor ekonomi, kebijakan migrasi, dan gender membentuk ekspresi keagamaan serta ketahanan sosial para pekerja migran Indonesia.
“Pengalaman migrasi tidak hanya menghasilkan remitansi ekonomi, tetapi juga membentuk cara baru para pekerja memaknai iman, identitas, dan solidaritas sosial yang pengaruhnya justru semakin terasa ketika mereka kembali ke komunitas asal,” ujar Dr. Leonard Chrysostomos Epafras.
Di Korea Selatan, yang kini menjadi salah satu tujuan utama PMI laki-laki melalui skema Government-to-Government (G-to-G), stabilitas ekonomi memainkan peran penting dalam membentuk ekspresi religius. Dengan penghasilan yang relatif tinggi, terutama di sektor manufaktur, perikanan, dan industri, para PMI mampu mengonsolidasikan modal ekonomi menjadi kekuatan kolektif. Penelitian ini mencatat berdirinya lebih dari 63 masjid Indonesia di Korea Selatan yang didanai dan dikelola secara mandiri oleh komunitas PMI. Fenomena ini dipahami sebagai bentuk replikasi keagamaan transnasional, di mana praktik, struktur, dan tradisi keagamaan dari tanah air diwujudkan kembali di negeri orang. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol eksistensi, ruang perjumpaan sosial, dan “rumah kedua” di tengah lingkungan budaya yang berbeda.
Kondisi yang sangat kontras ditemukan pada PMI di Hong Kong, yang mayoritas merupakan perempuan dan bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Dengan keterbatasan upah, ruang gerak, serta tidak adanya legalitas untuk mendirikan bangunan ibadah formal, ekspresi keagamaan para PMI perempuan tidak terwujud dalam bentuk infrastruktur fisik. Namun, keterbatasan tersebut justru melahirkan praktik keberagamaan yang bersifat fungsional dan adaptif. Ruang-ruang publik seperti taman kota, selasar gedung, tempat penampungan, hingga ruang daring dimanfaatkan sebagai sarana ibadah, penguatan spiritual, dan solidaritas sosial. Dalam konteks ini, iman hadir sebagai sumber ketahanan psikologis dan alat bertahan hidup di tengah tekanan kerja dan kerentanan sosial.
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah pemaknaan agama sebagai “infrastruktur tak kasat mata”. Di tengah sistem sosial yang sekuler dan kompetitif, agama berfungsi sebagai jangkar identitas, ruang aman, serta basis solidaritas lintas iman. Penelitian ini juga menemukan adanya negosiasi identitas, di mana para PMI menyesuaikan diri pada aspek tertentu—seperti pola kerja atau budaya sehari-hari—tanpa sepenuhnya melepaskan identitas keagamaan dan kebersamaan dengan sesama pekerja Indonesia.
Ketika kembali ke daerah asal di Jawa Timur dan Jawa Tengah, para purna PMI membawa pengalaman yang berbeda-beda. Purna PMI dari Korea Selatan umumnya kembali dengan modal ekonomi yang kuat dan berperan sebagai penggerak ekonomi lokal. Sementara itu, purna PMI dari Hong Kong membawa apa yang disebut sebagai remitansi sosial, berupa kesadaran hukum, pengalaman berorganisasi, serta keberanian untuk bersuara. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian bertransformasi menjadi aktivis desa, pendamping calon PMI, serta penggerak edukasi pencegahan perdagangan manusia, menjadikan pengalaman migrasi sebagai bekal perubahan sosial di tingkat akar rumput.
Pada akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa di balik kontribusi devisa negara, terdapat manusia yang berjuang mempertahankan iman, identitas, dan harapan di tanah asing. Ketika para PMI itu pulang, mereka tidak hanya membawa uang, tetapi juga ketahanan hidup, pengetahuan sosial, dan semangat perubahan yang berharga bagi komunitas asal mereka.
Sumber: Leonard C Epafras
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Leonard C Epafras