
Yogyakarta, 15 Januari 2026 — Air merupakan unsur fundamental bagi keberlangsungan hidup manusia dan menjadi kebutuhan dasar dalam berbagai aktivitas sehari-hari, seperti memasak, mandi, dan minum. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, kebutuhan air bersih terus meningkat, sementara ketersediaannya bersifat terbatas dan rentan mengalami penurunan apabila dieksploitasi secara berlebihan. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan menjadi kunci dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.
Salah satu sumber air bersih utama di wilayah perbukitan adalah mataair, yakni airtanah yang muncul secara alami ke permukaan dan membentuk aliran terpusat. Mataair banyak dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun non-domestik, seperti pertanian dan peternakan. Kondisi ini juga dijumpai di Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sebagian besar wilayahnya mengandalkan mata air sebagai sumber air bersih.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim peneliti dari Minat Studi Magister Pengelolaan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) melakukan penelitian untuk menganalisis potensi mata air sebagai sumber air bersih dengan pendekatan hidrogeomorfologi. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Langgeng Wahyu Santosa, S.Si., M.Si., dengan anggota Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A. dan Ermina Pradipta Darmastuti.
Pendekatan hidrogeomorfologi digunakan untuk mengkaji keterkaitan antara aspek geomorfologi—seperti genesis bentuklahan, morfologi lereng, morfoproses, morfo struktur, dan morfokronologi—dengan karakteristik kemunculan mata air. Analisis dilakukan melalui metode survei lapangan, pengukuran debit dan sifat aliran, serta pengujian kualitas air berdasarkan parameter suhu, pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan daya hantar listrik (DHL). Selanjutnya, dilakukan penilaian (skoring) untuk menentukan potensi mataair sebagai sumber air bersih utama di wilayah penelitian.
Ketua peneliti, Dr. Langgeng Wahyu Santosa, menjelaskan bahwa pendekatan hidrogeomorfologi memberikan gambaran komprehensif mengenai hubungan antara kondisi fisik wilayah dan ketersediaan sumber air.
“Pendekatan hidrogeomorfologi memungkinkan kami memahami keterkaitan antara bentuklahan dan karakteristik mata air secara menyeluruh. Dengan pemahaman ini, potensi mataair dapat dikelola secara lebih tepat, berkelanjutan, dan berbasis ilmiah untuk mendukung kebutuhan air masyarakat,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah penelitian tersusun atas tiga satuan bentuklahan, yaitu Perbukitan Struktural Patahan Vulkanik Tua Formasi Nglanggeran, Perbukitan Struktural Patahan Tuf Konglomerat Formasi Sambipitu, dan Perbukitan Solusional Karst Batugamping Terumbu Formasi Wonosari. Dari ketiga satuan bentuklahan tersebut, teridentifikasi sebanyak 123 titik mataair yang tersebar merata di enam kelurahan.
Sebagian besar mata air yang ditemukan bersifat perennial, yakni mengalir sepanjang tahun dan tidak dipengaruhi musim, sementara hanya empat mata air yang bersifat intermitten atau mengalir secara periodik pada musim hujan. Debit total mataair yang terukur mencapai 138.169,81 meter kubik per tahun. Namun demikian, hasil analisis juga menunjukkan bahwa ketersediaan air tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan air total masyarakat untuk sektor pertanian, peternakan, dan domestik, yang mencapai 17.509.790,22 meter kubik per tahun, sehingga terjadi kondisi defisit air.
Selain kuantitas, penelitian ini juga menyoroti aspek kualitas air. Beberapa mataair menunjukkan parameter yang melebihi baku mutu, antara lain TDS, kekeruhan, warna, COD, BOD, dan total coliform pada titik-titik tertentu. Temuan ini menjadi dasar penting bagi perumusan strategi pengelolaan mata air yang lebih berkelanjutan.
Sebagai rekomendasi, tim peneliti mengusulkan sejumlah strategi pengelolaan, antara lain pembangunan bak penampung air untuk menampung kelebihan air pada musim hujan, perlindungan area mata air dalam radius 5–10 meter, pembentukan kelompok masyarakat pengelola mataair, edukasi pemeliharaan prasarana pelindung mata air, pengecekan kualitas air secara berkala, pengurangan penggunaan pupuk kandang berlebih, serta penyediaan sanitasi yang layak bagi masyarakat.
Sumber: Langgeng Wahyu S
Editor: Asti Rahmaningrum
Foto: Langgeng Wahyu S